PENANAMAN NILAI DI TENGAH DERASNYA ARUS ‘HILANGNYA JATI DIRI’


MAHASISWA!!!!, kata yang memiliki makna suatu ketinggian, merupakan satu kata yang tersusun dari dua kata yang sama sekali berbeda. Berawal dengan kata Maha yang memiliki makna ketinggian yang paling tinggi, dilanjutkan dengan kata siswa yang menunjukkan pelajar atau orang yang sedang belajar dan status siswa ini melekat pada pelajar tingkat SD, SMP dan SMU. Dua kata ini yakni Maha + Siswa berpadu membentuk satu kata yang baku;
MAHASISWA!!! Mahasiswa merupakan kaum intelektual yang merupakan bagian dari rakyat dan masyarakat, kaum intelektual yang menjalankan kegiatan pendidikan, penelitian serta pengabdian masyarakat berdasarkan Tri Dharma Perguruan Tinggi serta kaum intelektual yang merupakan perwakilan rakyat dalam mengusung aspirasinya untuk kemudian menggedor pintu kantor-kantor gedung parlemen tempat wakil rakyat bekerja yang selalu “mewah” di ujung sana.

 

 

 

Pengertian dan idealisme mahasiswa yang telah tersebutkan dalam paragraf pertama diatas tidak akan terwujud sebelum kepribadian dan karakter personal mahasiswa ideal dan sejati benar-benar telah terbentuk dan tercetak dalam hati masing-masing mahasiswa. Pernyataan ini begitu membuat kita semua bingung hal seperti apakah yang dapat mencetak dan membentuk karakter kepribadian ideal mahasiswa seperti yang telah terwujudkan diatas untuk kemudian menjadi para pemimpin bangsa yang akan bersama-sama mengurus negeri ini.

 

 

 

PENGKADERAN, YA PENGKADERAN

Pengkaderan yang merupakan bagian dari pendidikan–salah satu jalan spesifik mewujudkan satu dari empat tujuan nasional yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan sekadar mencerdaskan otak, melainkan juga mencerdaskan hati. Bukan hanya menajamkan logika, melainkan juga mengasah nurani dan rasa. Seperti itulah hakikat pengkaderan—pendidikan–seharusnya, mencerdaskan manusia seutuhnya. Sementara merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) makna pengkaderan adalah suatu proses pendidikan, pembentukan dan pembinaan karakter pribadi seseorang agar sesuai dan sepaham dengan paham suatu wadah ataupun kelompok tertentu untuk kemudian memegang peran penting sebagai generasi penerus wadah atau kelompok tersebut. Nah, kelompok tertentu inilah yang kemudian kita sebut sebagai bangsa atau lebih tepatnya Bangsa Indonesia. Dan, pengkaderan yang seperti inilah yang kita sebut sebagai pengkaderan berwawasan kebangsaan.

 

 

UNIVERSITAS MULAWARMAN atau lebih akrab disebut UNMUL yang telah lebih dari 50 tahun berdiri dan turut serta berpartisipasi dalam “..mencerdaskan kehidupan bangsa..”, dengan berbagai lika-liku sejarahnya juga telah melakukan kaderisasi para calon pemimpin bangsa masa depan yakni mahasiswa. Dimulai dari pengkaderan yang berlingkup paling luas yakni pengkaderan yang dilakukan se-UNMUL atau biasa kita sebut dengan pengkaderan massal—yang dalam pengkaderan ini—mahasiswa baru ditanamkan berbagai wawasan integralistik yang membuang jauh-jauh arogansi masing-masing jurusan dan menjunjung tinggi “nasionalisme” ke-UNMUL-an, sinergi satu UNMUL serta nilai dan norma-norma kemahasiswaan yang berlaku di UNMUL. Lalu, menuju ke ruang lingkup selanjutnya yang lebih kecil yaitu pengkaderan fakultas yang dilakukan oleh elemen masing-masing fakultas. Pengkaderan fakultas ini dilaksanakan dengan warna dan corak yang berbeda tentunya karena masing-masing fakultas memiliki nilai dan norma yang berlaku yang berbeda dari satu fakultas ke fakultas lain tanpa sedikitpun bertentangan, berbeda tetapi tidak bertentangan. Dan menuju kepada lingkup yang paling kecil, yaitu pengkaderan jurusan. Dalam pengkaderan dengan ruang lingkup yang paling kecil inilah nilai dan norma-norma khas dan unik dari masing-masing jurusan ditanamkan, bahkan juga rasa kebangaan juga “arogansi” masing-masing jurusan-pun tak luput dari masa pengkaderan jurusan ini yang seharusnya dilakukan dengan terkoordinasi tanpa sedikitpun mengurangi wawasan integralistik satu UNMUL.

 

 

 

Beberapa hal yang patut bersama kita kritisi oleh mahasiswa lama, baru dan para stakeholder UNMUL berkenaan dengan pengkaderan yaitu, mahasiswa kini yang dihadapkan pada fenomena pragmatisme akut. Orientasi mereka semakin pendek. Akibatnya cara pandang mereka atas objek tertentu`lebih sering bersifat teknikal. Karenanya tantangan kontemporer mahasiswa kini dan esok bagaimana membudayakan cara pikir kritis dan paradigmatik, agar mereka tidak tunduk pada pragmatisme, dan sebaliknya, idealisme mereka terus menyala. Bagi mahasiswa baru, penting mempertanyakan kapan jadwal Ospek, seperti apa Makrab, berapa harus bayar, dan seterusnya. Namun lebih urgen dari itu pertanyaan soal siapa mahasiswa, mengapa harus jadi mahasiswa, apa sumbangsih mahasiswa bagi komunitas, apa yang harus dilakukan oleh mahasiswa untuk berkontribusi bagi masa depan bangsa, dan sejenisnya. Jika mahasiswa baru gagal mengkontemplasikan dan merespon soal-soal paradigmatik tersebut maka sulit baginya untuk diharapkan berperan besar ke depan bagi perubahan masyarakat. Pemikiran teknikal ini dapat dianalogikan dengan melakukan kritisisasi BLT (bantuan langsung tunai). Orang yang berpikir teknikal, akan merespon BLT dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kapan pencairan, bagaimana cara mendapatkan atau bagaimana cara pembagian agar berlangsung tertib. Sementara yang berpikir kritis dan paradigmatik melampaui soal-soal itu. Dia lebih menyoal mengapa BLT, apa tidak ada kebijakan yang lebih memberdayakan, darimana sumber dana BLT, apakah BLT adequate mengompensasi dampak kebijakan kenaikan BBM, dan seterusnya. Oleh karena itu, pengkaderan yang ideal memegang peran strategis mengenai hal-hal terkait pengembangan sumber daya mahasiswa (PSDM) secara utuh dan komprehensif untuk mencetak dan mendidik kader agar tidak hanya sebatas berpikir secara teknikal tetapi berpikir ke arah esensial dan paradigmatik.

 

 

 

Pengkaderan, yang menurut survey, yang sepertinya juga penulis alami sewaktu masih menjadi mahasiswa baru ternyata dari dulu sampai sekarang masih menjadi momok yang cukup menakutkan. Hal inilah yang perlu bersama-sama kita evaluasi bahkan kita koreksi, tidak hanya mengoreksi pencitraan dari pengkaderan tetapi juga mengoreksi isi dan pelaksanaan pengkaderan itu sendiri. Pengkaderan yang ideal mengajarkan seperti yang diajarkan Nabi Muhammad–peace be upon with him—yaitu, mendidik dan mengkader dengan teladan. Tidak hanya bicara tetapi juga turut bekerja, tidak hanya omong tetapi juga memberi contoh. Hal inilah yang harus benar-benar diperhatikan oleh para pengkader agar dapat mencetak kader yang benar-benar berkualitas untuk generasi penerusnya. Sekali lagi, mengkader dengan penuh keteladanan.

 

 

 

Mengenai contoh pelaksaan pengkaderan itu seperti apa, setiap elemen pengkader baik dari jurusan, fakultas atau bahkan institut masing-masing memiliki cara yang berbeda dan unik ibarat “lain ladang lain ilalang lain lubuk lain ikannya”, karena memang begitulah pengkaderan, penanaman nilai-nilai khas kemahasiswaan sesuai masing-masing wadah yang ditempatinya. Sebagai contoh, mahasiswa senior hendaknya untuk menyambut mahasiswa baru tidak hanya dengan Ospek dan Keakraban, tetapi dengan budaya akademik yang memungkinkan tumbuh kembangnya idealisme mahasiswa.

 

 

 

Nilai-nilai umum yang wajib diterapkan juga dari dulu sampai sekarang masih menjadi perbincangan hangat berbagai kalangan mahasiswa. Beberapa hal umum tentang pengkaderan yaitu, hendaknya pengkaderan mampu menanamkan kembali karakter kerakyatan dan karakter kebangsaan kepada generasi muda Indonesia saat ini. Dua karakter inilah yang selama ini terlupakan dan tercampakkan sebagai dampak dari pesatnya era globalisasi. Karakter kerakyatan akan menjadikan pemuda Indonesia memiliki kepekaan, kepedulian dan tanggung jawab sosial bermasyarakat. Karakter kerakyatan ini mutlak diperlukan untuk mencegah semakin meluasnya gaya hidup apatis, individualis dan hedonis yang tengah menjangkiti generasi muda saat ini, serta menumbuhkembangkan kembali kesadaran sosial mahasiswaa untuk menanggapi permasalahan-permasalahan yang tengah terjadi dalam masyarakat. Dari situ, keberadaan pemuda akan kembali dirasakan oleh masyarakat karena karakter kerakyatan yang telah dimiliki akan menjadikan pemuda menjadi lebih dekat dengan masyarakat dan mampu menghadirkan solusi riil bagi permasalahan sosial bermasyarakat.

 

 

 

Adapun karakter kebangsaan dibutuhkan mahasiswa agar pemuda Indonesia mampu berpartisipasi aktif dalam tata kehidupan bernegara demi menjaga kesatuan negeri ini. Apalagi dengan semakin maraknya perang ideologi yang destruktif yang justru menjadikan pemuda sebagai sasarannya saat ini. Tentu ini menjadi ancaman yang sangat serius bagi masa depan negeri ini. Untuk itu, karakter kebangsaan menjadi sebuah nilai yang wajib dimiliki oleh generasi muda Indonesia. Nilai-nilai nasionalisme serta pemahaman komprehensif terhadap ideologi bangsa dan implementasinya akan menjadi perisai bagi perikehidupan generasi muda sekarang. Dengan karakter kebangsaan itu, generasi muda Indonesia akan menjadi generasi penerus yang handal untuk menjadikan Indonesia jauh lebih baik dan bermartabat.

 

 

Hal selanjutnya terkait dengan pencitraan pengkaderan. Zaman sekarang yang merupakan zaman yang serba transparan sehingga tidak ada hal—yang seharusnya dinyatakan dengan transparan—untuk ditutup-tutupi, terutama tentang pengkaderan. Kepada para senior atau yang mengkader, jelaskan dengan gamblang kepada khalayak atau birokrasi, katakanlah A jika memang yang dilaksanakan itu adalah A, dan katakan B jika yang dilaksanakan itu memang B, tanpa sedikitpun ditutup-tutupi. Dan kepada birokrasi, katakanlah kepada khalayak masyarakat terutama orang tua mahasiswa baru akan hal-hal yang sebenarnya terjadi terhadap para mahasiswanya beserta alasan dan konsekuensi logis yang tepat serta tidak lupa pula menjelaskan latar belakang utama mengapa pengkaderan harus dilaksanakan.