Ketika Dosen dan Mahasiswa Saling Menilai


Ketika Dosen dan Mahasiswa Saling Menilai

dosen
MEMBANGUN sebuah pendidikan bermutu bagus tak bisa dilakukan dalam sekejap dan serta-merta. Perlu langkah terencana dan bertahap. Lagi pula, menghasilkan keluaran (lulusan) sesuai dengan kebutuhan zaman membutuhkan kerja keras semua pelaku pendidikan, baik mahasiswa, dosen, maupun manajemen dan pengelola. Singkat kata, perlu kerja sama bahu- membahu untuk menuju pendidikan bermutu, minimal melahirkan keluaran yang mampu menghadapi permintaan pasar.

 

Bina Nusantara (Binus) Jakarta melakukan berbagai tahapan itu. Barangkali karena berstatus perguruan swasta maka manajemen pengelolaan institusinya agak berbeda dengan universitas lain. Ada keterbukaan, ada hak menilai dan dinilai, dan tak lupa ada sasaran-sasaran tertentu yang menjadi indikator keberhasilan mereka yang ada di dalamnya. Hak menilai dan dinilai tak hanya berlaku bagi dosen terhadap mahasiswa, tetapi sebaliknya. Seluruh mahasiswa wajib menilai dosennya. Universitas menyediakan formulir isian mengenai kehadiran dosen, cara mengajar, dan lainnya yang harus diisi mahasiswa setiap semester. Hasil isian akan menentukan posisi dosen. Jika mahasiswa menganggap si dosen memiliki kekurangan di bidang tertentu, manajemen akan memasukkannya ke pusat training bagi para dosen. Sebaliknya, mahasiswa juga tak bisa seenaknya. Ia mendapat target tertentu dari universitas. Untuk memberi motivasi kepada mahasiswa, manajemen Universitas Binus sengaja memberi nomor induk mahasiswa (NIM) bukan sesuai dengan tahun masuk seperti lazim dilakukan semua perguruan tinggi, tetapi sesuai dengan tahun lulusan. “Dengan demikian, setiap mahasiswa terdorong untuk lulus lebih cepat supaya mendapat NIM lebih awal,” ujar Direktur Akademik Once Kurniawan SKom, MM. Barangkali karena ada target semacam itu, kata Direktur Operasi Binus Harjanto Prabowo, sekitar 80 persen mahasiswa lulus dari berbagai program studi dalam tempo 3,5 tahun. “Memang belum ada sanksi jika mahasiswa tak lulus dalam tempo empat tahun, tetapi secara psikologis ia akan merasa nyaman karena teman kuliah seangkatan sudah selesai dan pergi, sementara ia masih kuliah,” kata Once. Sistem pendidikan di universitas yang memiliki tiga kampus terpisah di Kota Jakarta itu memang unik daripada institusi pendidikan tinggi lainnya. Dari segi pembelajaran misalnya, sejak awal mahasiswa diajak aktif. Dosen tak lagi menerangkan sebuah teori secara panjang-lebar di depan kelas. “Kami memakai sistem computerized dan on-line dalam pembelajaran di kelas. Dosen hanya memberi pengantar, selanjutnya mahasiswa harus mencari tambahan sumber belajar, baik dari buku atau lewat internet,” kata Once. Dalam pertemuan selanjutnya, dosen hanya menyodorkan kasus-kasus yang harus diselesaikan para mahasiswa dalam diskusi dalam kelas. Maka, tak perlu heran bila tempat duduk mahasiswa tak selalu konvensional, menghadap ke depan kelas. Posisi kursi lebih banyak melingkar karena lebih banyak aktivitas diskusi. “Apakah mahasiswa mau maju dengan pengayaan teori dari berbagai sumber atau merasa cukup dengan hanya membaca satu diktat, terserah dia,” ujar Once, yang masih tetap aktif mengajar itu. Pemecahan kasus akan terus berlanjut hingga mereka ujian. Menurut Once, para dosen tak lagi menerapkan ujian teori. Semua ujian diberikan dalam bentuk pemecahan kasus yang merupakan aplikasi dari teori yang dikawinkan dengan pemikiran pribadi si mahasiswa. UNIVERSITAS Binus sebenarnya berawal dari kursus komputer yang berdiri 21 Oktober 1974, bernama Modern Computer Course. Karena begitu banyak peminat yang ingin belajar di sana, kursus berkembang pesat sehingga tahun 1981 menjadi Akademi Teknik Komputer yang memiliki jurusan teknik komputer dan manajemen teknik informatika. Makin lama, jurusan makin bertambah, dari dua menjadi tiga, seiring dengan pergantian nama. Tahun 1985 ia berganti nama menjadi AMIK Binus. Setahun kemudian, Depdikbud lewat Kopertis Wilayah III Jakarta memilihnya menjadi akademi komputer terbaik. Tahun 1986, yayasan mendirikan Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer. Dua perguruan itu tahun 1998 melebur menjadi Universitas Bina Nusantara yang memiliki Fakultas Ilmu Komputer, Ekonomi, Teknik, Sastra, MIPA, dan Pascasarjana Sistem Informasi. Kini, Binus juga membuka program internasional (twining program) bagi empat jurusan. Ia bekerja sama dengan Curtyn University dan Royal Melbourne Institute Technologi Australia. Binus yang menargetkan 90 persen lulusannya harus bekerja pada tahun pertama sejak lulus itu, kini memiliki 20.000 mahasiswa yang diasuh sekitar 700 dosen, 400 di antaranya berpendidikan master dan doktor. Harjanto mengatakan, dasar dari perguruannya adalah ilmu komputer sehingga nama Binus identik dengan pendidikan komputer. “Di sini semua dosen mendapat pembelajaran mengenai teknologi informasi sebab mereka harus melakukan itu di kelas,” katanya. Tak hanya itu, mahasiswa juga bisa mengambil program keilmuan ganda. Misalnya Fakultas MIPA dan Statistika Terapan dengan Teknologi Informasi. Pendeknya, pimpinan Binus berupaya lulusannya tak sekadar menjadi orang yang menguasai bidangnya, tetapi harus menguasai teknologi karena era sekarang menjadi milik mereka yang melek teknologi. (TRI)