ULAT BAHAGIA???? writted by DEWI :D


 

Mungkin ketika saya menulis Cerpen ini saya berada dalam tekanan yang luar biasa hebatnya,,  Huuaaaaahh..

Langsuung saja kita ke TeeeKaaPeeee…!!!

Kejadian ini terjadi sekitar abad ke 20 sesudah Masehi,, dimana pada zaman itu suster ngesot sudaah bisa keramas,, dan pocong sudah bisa minta kawin..

Hahahaha.. fokus fokus..

Kisah ini berawal dari kelabilan dua mahasiswi yang sama-sama baru dicampakkan oleh pacarnya tanpa alasan yang jelas,, Mungkin kedua lelaki itu sudah menyadari kekhilafannya selama ini dan lebih memilih kembali ke jalan yanng benar.. wkwkwk,, Sungguh Miris nasib kedua wanita ini,,

Namun lebih mirisnya lagi ketika saya menyadari bahwa saya adalah salah satu dari kedua wanita itu,, weeeekkk TidaAaKk Mungkiiiiiiin  >.<  Dan untuk wanita miris yang satunya lagiii,, sebut saja diaaaa “Bunga’’,, tapi saya rasa Bambang merupakan nama yang lebih indah untuk dia.. haha

Pada hari itu kebetulan kami sedang mengikuti UAS, Seperti mahasiswa/i yang berakhlak mulia lainnya,, saya dan Bunga mengikuti UAS dengan Khusu’ dan tenang,, Tiik tokk tiik took,, entah mengapa Waktu terasa sangat lama berlalu,, hingga saya menyadari bahwa Nenek saya sudah tidak muda lagi,, wkwkwk:D

keberuntungan tidak berpihak diruangan kami,, Loe tau kagak siih kalo yang ngawas itu jauh lebih seram dari pada “Tuan Takur” ,, heeh Bujubuuneeng,, malaikat Jibril pun takut memberikan hidayahnya kepadaku.. T.T

Singkat cerita,, waktunya pun habis,, dan kami pun keluar ruangan dengan wajah yang Luar biasa suramnya,, tak terkecuali untuk dua wanita FAKIR CINTA ini,,

Haha..  Kegalauan yang melandaa jiwa berirama dengan irama disco yang berasal dari perut,, sepertinya Cacing-cacing di perut sudah mulai Berorasi meminta Hak mereka.

“wok, cari makan yok.” Ajak si bunga.. saya menjawab “Ayook.”

Dengan keadaan setengah idiot kami pun pergi ke salah satu warung pecel di kota Samarinda. Dalam perjalan tak lupa Lagu Galau pun terus berkumandang di telinga,, terutama Si Rumor “Butiran Debu”.. Harap  Maklumm -,-

Sesampainya disana,,  heedeeeehh,, Luar biasa antriaannya mameeen,, seperti antrian sembakoo,, Bayangin aja setengah JAM ngantri dengan wajah yang memelas kami pun  beberapa kali sempat dianggap Angin Lalu..

Dan akhirnyaaaaaaa.. Alhamdulillah ya Raabbb.. ^.^

“Mau pesan apa ya Mbak..??” tanya mba-mba pecel

“Pesan 1 nasi pecel lauknya ayam ditambah 2 perkedel kentang, yang 1 lagi Sop Tulangan yy mba,, minumnya es jeruk dan es teh.” Jawab Bunga.

Dengan wajah berbahagia kami pun duduk manis menunggu kehadiran Si Pecel dan Si Tulangan..

Taraaaaaaa,,, Hidangan pun datang,, entah mengapa saat itu firasat saya mulai tidak enak,, heeh,,

Si Bunga dengan lahapnya mulai menyantap Si Pecel,, dan ternyata tidak ada bedanya dengan saya yang juga demikian adanya sampai-sampai tulang di hadapan saya musnah entah kemana .

Heeh,, Loe bayangin ajja seorang gadis solehah memakan Sop tulang tanpa menggunakan sendok,, ya mau bagaimana lagi,, dari pada tulangnya loncat kepiring tetangga. hedeeh sifat kekulianku sudah mulai nampak disini..

Kadang juga akku merasa sangat ekstrim ketika mendapati diriku memesan menu yang seperti itu,, dan mungkin sebagian orang menganggap aku sebagai titisannya SUMANTO,, namun apa boleh buat,, saya dibesarkan dari keluarga KARNIVORA yang tidak bisa hidup jika dalam seminggu tidak memakan daging,,

Wkwkwkw..

 “ Eh bung,, kenapakah kamu kalo makan disini ndak pernah mesan menu yang lainnya,, coba sekali-sekali pesan yang lain.” Bunga pun menjawab “endak ah wok,, akku gg suka makan daging,, mending mending makan sayur ajja sehat.”  Hewwh,, entah mengapa saya merasa si Bunga menjadi sok biologi sekali hari ini.. ahahaha

Obrolan kami pun berlanjut. Mulai dari nyeritain sang mantan,, kakak tingkat,, cowok prodi sebelah,, hingga sejarah kami Tujuh Turunan,,

Sungguh tidak penting sekali..

Hingga tak terasa Tulangan telah menjadi Tulang beneran, sementara si bunga masih tetap khusu’ bersama pecelnya. Heisss terasa lama,,

Hingga akhirnya,, Tiba saatnya si Bunga telah melahap semua makannya tanpa berperikemakanan hingga bersisa satu sendok sebelum semuanya habis tanpa sisa. Saat itu keanehan pun mulai nampak pada piring si Bunga. Tiba-tiba ada seekor ulat yang sedang tersenyum bahagia berada pada sendok suapan terakhir. Si ulat adalah ulat yang baik, hingga akhir hayatnya ia pun mati dengan tersenyum bahagia. Bunga yang hendak memakan suapan terakhir tu pun memiliki rasa iba yang tiba-iba muncul. Ia tak jadi memakan si ulat bahagia itu bukan karena tak tega untuk memakannya karena tiba-tiba saja si Bunga memakai akalnya untuk berpikir, menganalisa kejadian yg sebenarnya. Ia menganalisa bahwa suapan demi suapan sebelumnya mengandung ulat-ulat yang mati dengan bahagia tak kalah dengan ulat yg ada pada sndok terakhir di pecel itu.

Hikmah cerita:

Jika ada ulat yang mati pada sayurmu maka, makanlah ia sepenuh hatimu karena sesungguhnya ulat memiliki protein >80%”